Archive for July, 2007

dua hari yang istimewa !!!

Sunday, July 15th, 2007

Tema tuk malam ini… "Great, Two days"…

dua hari… tuk kebahagiaan
dua hari… tuk keindahan
dua hari… tuk kebersamaan
dua hari… tuk keabadian
dua hari… tuk kenyataan
dua hari… tuk kedamaian
dua hari… tuk keharmonisan

"Dua hari" yang kan menjadi pondasi segalanya…

also wanna share what u feel Babe ???

*cheers 4 the best two days* Love u Darling…

Kisah Rohani *ketika ”kupu-kupu” bertasbih*

Wednesday, July 11th, 2007

Sebuah Kisah dalam buku: Dahsyatnya Kekuatan Cinta (Hikmah,2007)… sempat
disampaikan dalam buletin salah seorang teman gw (thx bwt Nuri yang udah
membagi jalur dakwahnya)… mungkin bagi rekan sekalian yang belum pernah
mengetahui mengenai kisah ini, saya coba untuk lebih memperluas
penyebarannya… satu yang selalu menjadi motivasi dalam mengangkat kisah ini
adalah materi moral nya yang terasa amat kental.

kisah ini indah… kalimat ini yang terucap sesaat gw selesai membacanya…
bahkan bagi diri gw pribadi, ini termasuk kategori cerita yang bisa tuk
dijadikan renungan hidup… mungkin dalam kisah ini, sang penulis ingin
mengangkat isu sosial (prostitusi) sebagai imbas dari rendahanya aspek ekonomi
di masyarakat, walau kenyataannya tekanan ekonomi tidak selama mendasari
prilaku menyimpang ini, apalagi ditambah dengan bayangan banyaknya individu
atau komunitas yang lantas memicingkan mata terhadap isu sosial semacam ini…
termasuk mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dengan metode ekstrim… cap
sebagai ”sampah” acap kali dilontarkan bahkan oleh orang yang berpakaian
selayaknya menjadi tokoh panutan dalam masyarakat. Penulis benar-benar
mengangkat bagaimana suatu dakwah tidak harus diucapkan atau disampaikan dalam
bentuk khutbah atau doktrinasi… dakwah tidak hanya disampaikan pada kalangan
masayarakat normal, Jihad tidak selalu dalma kekerasan dan ajakan untuk yakin
Bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan umatnya…

Kisah ini membagi sedikit solusi
bagaimana sikap tindak untuk memerangi sebuah kemungkaran… yang tentunya
memulai perbaikan dari dalam diri sendiri dan menularkannya kepada
masyarakat… hingga ke tahap melafadz kan niat dan doa, pada saat terjadinya
kemungkaran, hingga berdakwah memerangi kemungkaran…


Kembali menyikapi karya tulis ini, Gw ga peduli jika karya ini hanyalah karya
pena dan lantunan isi pikiran semata, atau kisah ini memang nyata ada… yang
terpenting bagi gw sekarang adalah "panutan" yang dideskripsikan
dalam cerita ini, bagaimana sikap kita dalam menyikapi suatu hal negatif dengan
respon yang sangat positif… Sungguh bagi gw, materi kisah ini bisa membuka
mata banyak insan dalam bersikap melihat sekeliling kita…

Satu kalimat ini yang membuat gw tersenyum setelah selesai membacanya adalah…
"Selalu ada keajaiban untuk mereka yang benar-benar ingin kembali
padaNya"

Mungkin sekian prolog dan latar belakang kenapa kisah ini gw share dengan
rekan-rekan sekalian… siapa tahu, bisa jadi aspirasi juga buat kalian…
berikut jalan kisah ini:

Malam telah menurunkan jubah gelapnya ketika Kyai Sadawi naik ke atas
delmannya. Ia menuntun kudanya menembus kegelapan. Dingin menggigit. Tapi
lelaki enam puluhan itu tak peduli. Dengan sarung dan selempangan kain di
leher, ia menuju sebuah tempat; istana perempuan-perempuan malam.

Tak lama kemudian seorang perempuan telah berada di atas delmannya. Kyai
Sadawi akan membawanya pulang. Meskipun senja telah menggantungi usianya,
urusan perempuan dia tetap ahlinya. Ia memilih perempuan yang paling laris di
lokalisasi prostitusi tersebut. Karti, perempuan di atas delman awalnya tak
mengerti. Mengapa induk semang mengijinkannya keluar? Siapakah yang akan
dilayaninya. Lelaki berpeci putih itukah? Dari penampilannya, Karti sangsi.
Birahi mungkin telah terbang dari tubuh layu itu. Tapi siapa tahu. Bandot tua
saja bisa menjadi harimau kelaparan di dalam kamar; melumat tubuhnya hingga
penuh bekas terkaman. Kyai sadawi melirik Karti. Sepanjang perjalanan ia diam.
Karti pasti terlahir dari rahim kemiskinan. Makanan sehari-hari Karti; sepiring
derita segelas nestapa. Keadaan membuat ia masuk perangkat laba- laba betina.
menjual kehormatan dengan harga sangat murah. Kyai Sadawi tahu benar akan hal
itu.

Sampai di sebuah rumah kayu, Kyai Sadawi menyuruh Karti turun. Ia mengucap
salam dan berteriak pelan, Nyai, kita kedatangan tamu Allah. Segera buka pintu.
Seorang perempuan berkerudung membuka pintu. Senyum menghias wajahnya yang
berkerut. Ia menuntun Karti masuk. Silahkan, jangan sungkan-sungkan. Anggap
saja rumah sendiri. Karti semakin tak mengerti. Di ruang tamu Karti menunggu.
Nyai menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng, sungguh nikmat. Karti juga
ditawari makan. Ia menolak. Sudah, katanya. Kayai sadawi masuk ke ruang tamu.
Ia duduk di kursi seberang Karti. Kita main sekarang, Kyai? selidik Karti. Agak
ragu ia mengucap kata itu. Apa mungkin lelaki tua ini punya hasrat kuda liar. Tidak.
Nanti saja. Lebih baik kamu mandi dulu, Nyai sudah menyiapkan air hangat
untukmu.Mandi dulu. Beberapa pelanggan Karti juga sering menyuruh mandi dulu.
Biar kesegaran menyerap ke dalam pori-pori kulit, supaya nyaman kulit
bersentuhan, bertukar panas tubuh.
Karti pergi ke belakang. Menikmati tetes hangat dalam
bimbang. Nyai memberikan pakaian panjang untuk Karti. Pakaian pertama yang
menutupi tubuhnya hingga mata kaki. Kanti duduk di ranjang sambil menyisir
rambut panjangnya.
Ia menunggu, Kyai sadawi atau ada lelaki lain? pasti akan segera masuk.
Benar saja, ketukan pintu terdengar. Karin membuka pintu. Kyai Sadawi terseyum
di ambang pintu. Sekarang kyai? Tidak. Nanti saja. Kamu istirahat saja dulu.
Setiap malam kamu bekerja keras. Malam ini kamu istirahat dulu. Setelah mandi,
enak sekali kan kalau tidur. Karti mengerutkan dahi. Kyai Sadawi
meninggalkannya. Jangan lupa kunci pintunya, teriak Kyai Sadawi. Karti
merapatkan pintu. Ia semakin tak mengerti. Malam itu, Karti tertidur lelap. Ia
bermimpi seorang lelaki berpakaian putih memberikan matahari padanya.

Sebelum azan shubuh berkumandang, Karti dibangunkan. Nyai mengajak Karti
shalat berjamaah di rumah. Kyai Sadawi sudah berangkat ke Masjid. Karti menurut
saja. Ia berusaha keras mengingat bacaan shalat yang dulu pernah sangat
dihapalnya.
Setelah
sarapan Kyai Sadawi memanggil Karti. Mungkin sekaranglah saatnya, pikir Karti.
Ia berjalan pelan ke ruang tamu. Kyai Sadawi menyuruh Karti duduk. Entah
kenapa, Karti tak berani menatap wajah tua itu. Kamu biasanya dibayar berapa
untuk melayani semalam penuh? Karti mendongak, tapi langsung menunduk lagi.
Katakan saja angkanya. Tak perlu sungkan. Karti menyebut angka. Kyai Sadawi
mengeluarkan amplop dari sakunya. Ia meletakkan amplop di meja, menggesernya ke
arah Karti. Ini untuk mengganti tarif kamu semalam penuh. Kalau lebih, ambil
saja sisanya. Tapi, saya kan belum melakukan apa-apa Hanya saja. Saya pesan,
tolong uang itu digunakan untuk kebaikan. Jangan dipakai untuk kemaksiatan. Ini
rejeki halal kamu. Karti makin tak berani menatap wajah Kyai Sadawi. Kamu itu
sebenarnya perempuan baik. Dan bisa kembali baik. Saya tak bisa membantui
banyak selain menjamu kamu semalam penuh.
Maaf,
kalau ada yang kurang berkenan. Inilah kesanggupan kami.

Kyai Sadawi mengantar Karti sampai ke tempat induk semangnya lagi. Delman
berjalan perlahan. Selama perjalanan karti merenung, menatap amplop pemberian
kyai Sadawi. ooo Di malam-malam berikutnya, Kyai Sadawi, melakukan hal yang
sama pada perempuan malam lainnya. Tapi ia tidak pernah mengajak perempuan yang
sama. Semalam Karti, malam berikutnya Parti. Di lain kesempatan, ia membawa
Santi. Begitu hingga tak terhitung jumlahnya.

Di komplek prostitusi, para perempuan malam saling menuturkan
pengalamannya. Waktu dibawa, aku sempat heran. Masa sih, Pak Kyai mau main sama
aku. Apa nggak patah tulangnya melayani jurusku. Santi tertawa. Aku juga. Di
rumahnya, wah kayak ratu. Belum pernah aku diperlakukan seperti itu. Yang
paling baik, cuma senyum-senyum, merayu. Trus langsung tancap gas, tambah
Parti. Karti yang sedari tadi melamun ikut buka suara, betul. Aku merasa di
manusiakan kembali. Betapa baiknya pasangan suami istri itu pada kita. Semuanya
terdiam. Kamar sempit itu hening. Matahari baru saja menampakkan wajahnya,
waktu bagi mereka untuk melepas lelah. Karti berbaring, menumpukan kepala ke
atas bantal. Matanya nanar. Tiba-tiba ia menangis. Kamu kenapa, Karti? Santi
heran. Tidak apa-apa. Tapi entah kenapa, kalau ingat wajah Kyai Sadawi dan
istrinya, aku juga terkenang, Bapak-Ibuku.
Santi dan Parti menghela napas.
Panjang. Merekapun ikut merenung. Lama-kelamaan mata Parti dan Santipun ikut
basah. Semakin lama, makin banyak perempuan malam suka membicarakan Kyai
Sadawi. Ada yang simpati, ada pula yang menganggapnya biasa. Dia lagi loyo aja.
Kyai Sadawi menjadi buah bibir di kalangan perempuan malam.

Karti yang akhir-akhir ini mulai malas menerima tamu, mencetuskan ide,
bagaimana kalau kita silaturahmi ke rumah Kyai Sadawi lagi.
Entah, aku kok jadi kangen
sama, Nyai. Beberapa orang setuju. Tak disangka beberapa orang, dua puluhan
orang ingin juga mengunjungi Kyai Sadawi. Suatu siang, mereka beramai-ramai
pergi ke ruamh Kyai Sadawi. Nyai Sadawi yang baru saja menunaikan shalat dzuhur
terkejut. Mereka disuruh berkumpul di pondok kecil, samping rumah. Kyai Sadawi
datang. Mengucapkan salam. Wah, saya kedatangan tamu-tamu cantik lagi. Senyum
menghias wajah-wajah tanpa polesan meriah. Mereka senang mendengar pujian tulus
Kyai Sadawi. Mereka mengutarakan maksud kedatangan. Bahkan Karti mencurahkan isi
hatinya. Ia ingin berhenti melayani laki-laki. Tapi, bagaimana caranya. Kyai
Sadawi tersenyum, mengucap syukur, Pintu rumah ini tak pernah terkunci untuk
kalian. Dan pintu maaf Yang Kuasa juga selalu terbuka. Tinggal kalian saja,
kapan mau datang dengan wajah baru. Saya siap menampung kalian di pondok. Dan
kalau kalian tak keberatan Kyai Sadawi berbisik pada Nyai yang duduk di
sampingnya. Beberapa saat kemudian, Nyai kembali bersama puluhan pemuda
berwajah bersih. Mereka berdiri tak jauh dari pondok, mengenakan kain sarung
dan pakaian lengan panjang, berpeci putih. Kalau kalian tak keberatan, Kyai
Sadawi melajutkan, saya minta kalian menikah dengan santri- santri saya. Mereka
siap berjihad mendampingi kalian. Semua perempuan malam ternganga. Tak percaya.
Laki-laki berwajah bersih itu untuk mereka? Apakah ini mimpi.Karti menangis
haru. Diikuti dengan isakan Parti dan Santi. Angin bertiuip semilir. daun-daun
pohon melambai. Perempuan malam bertasbih. Semesta ikut bertasbih. Selalu ada
keajaiban untuk mereka yang benar-benar ingin kembali padaNya

 

Pagi Pak…

Thursday, July 5th, 2007

Nit…nut…nit…nut… *alarm dah bunyi aja…
Hm ga sopannn !!!!*

*clingak clinguk liat jam…* waduh… kudu
bangun negh… ga lucu khan sholat ye niatnya sekalian dhuha… heeeee

*bbbrrrrr…dingin bow* …bis shalat… pelan2 merapat ke kasur… n… *lelap* mayan bisa tidur 1 setengah jam lage…

[7:12] mandi… mandiii… *ngeloyor keluar
kamar* yahhh kamar mandi penuh…

[7:32] nih orang ko ga keluar-keluar kamar
mandi yeee… buka lapotop bentar degh browsing…

[7:47] *denger pintu kamar mandi ke buka*

[7:49] *stand by laptop n ngambil handuk*

[7:50] *klack… suara pintu kamar mandi
tertutup* yaaaaaaaaaa !!!! ke selak lageee… hmmm… *mundur teratur balik ke
kamar*

[masih 7:50] *berbaring sebentar*
rrrrr…..zzzzzz…..rrrrrrrr…..zzzzzzz 

*tik tak tik tak* …. Stopppppp !!!!!

Gilee daghhh 8:22 cuyyy….. buru-buru lompat
ke kamar mandi n *jebar jebur*… 3 menit kemudian (gila cepet amat) !!!! *beberes…
gudubrag… rusuh*

*teng* 8.30… selesai bowww…. gile Rekor
!!!! hahahaha…

*manasin si besar* brem… breemmm… ngeeeengggg…
tet… tot… not… not… 

Sampe kantor…

*BUJUG dagh* masi sepi Bowww… *segelintir yang dah dateng itupun masih kucek2 mata* !!!! nyesel…
tau geto tidur lage…!!!!!

*masuk ruangan* *tengok kanan* … ehm… pagi Pak !!! waduh si bos dah dateng duluan… jadi ga enak… terbukti selanjutnya yang lain satu persatu personil yang baru datang setelah gw absen ama si Bos… hahahaha… telat kok kompak !!!! sydrom Jum’at negh*

Ambil HP mo telp… ehhh wait !!!! YM
*blinking* … eh Yayank menyapa pagi-pagi… uhhh senang nya… !!!!

Morning Hunny !!!! *love u*

Sepak Bola Tanah Air

Tuesday, July 3rd, 2007

Wajah olah raga Indonesia… mungkin terlalu luas
kalo gw coba tuk mengambil tema ini, karena emank sample yang gw pake baru
sebatas Sepak Bola… tapi menurut hemat gw sebagai penikmat olah raga, dengan
pertimbangan label “olah raga sejagad” untuk sepak bola dah cukup memberikan
kenyataan (yang menyedihkan) bagi pecinta olah raga di tanah air…

Ok mungkin coba fokus ke sepak
bola… hari minggu kemarin, sambil nongkrong di salah satu cafe di Mall yang
ada di Jakarta kota metropolitan… gw isenk membuka2 majalah yang disediakan
bagi para pengunjung… salah satunya gw baca majalah yang membahas sepak
bola… mulai lah satu persatu lembaran di buka, hingga akhirnya sampai kolom
yang membahas mengenai Sepak bola Nasional… u know what !!! i found… sebuah
judul yang miris banget buat di baca… “Sepak Bola Indonesia Menjemukan!!!”
what an ironic, bila kita perhatikan bahwa, olah raga ini memiliki rating
tertinggi di negara ini… banyak hal serupa dilontarkan oleh beragam analis
olahraga (maaf… banyak pihak yang hanya bisa berperan sebagai pengkritisi
murni)… kalo masalah komentar pedas… gw kasih jempol degh… tapi kalo
untuk solusi !!! Nol besar…!!! ini kalo kita bicara mengenai kadar
kualitas… nah blum selesai masalah ini… dah datang polemik baru tapi
klasik…

Pamor Indonesia sekali
lagi disorot oleh publik… wacana suap menyeruak… sedih bila mengatahui
oknum nya adalah para petinggi dua pengurus teras Sepak Bola Nasional. Yakni Togar Manahan
Nero (ketua komisi disiplin) dan Kaharuddin Syah (anggota executive
committee)… coba gimana gak Heboooh !!! secara… nama pertama bisa dibilang
galak banget kalo masalah pelanggaran… dari nama aja dah keliatan karakternya khan…
hehehehe…

Gw segh berharap ini semua hanya dugaan… atau bisa
di klaim sebagai gosip… nah masalah nyeeee… Hasil temuan TPF (tim
investigator bentukan PSSI… menegaskan bahwa skandal suap itu benar-benar
terjadi… *tertunduk lesu*

mungkin sebagai wacana bisa di baca artikel berikut:

*curhat mode off*



Quoted from : www.zonabola.com - Rabu, 4 Jul 2007, 05:27
Suap, Indonesia, dan Piala Asia

"…sepak bola Indonesia juga diguncang
skandal. Yakni praktik suap yang dilakukan oknum pengurus klub Divisi Satu
Penajam Medan Jaya kepada dua pentolan PSSI. Berawal dari SMS yang
"dipublikasikan" Syawal Rifai, sekretaris umum Medan Jaya, terkuaklah
skandal tersebut. Syawal mengaku telah menyetor Rp 100 juta kepada dua pengurus
teras PSSI.
Yakni Togar Manahan Nero (ketua
komisi disiplin) dan Kaharuddin Syah (anggota executive committee). Publik bola
tanah air gempar. Tekanan untuk mengusut tuntas skandal ini terus disuarakan. Berbeda
dengan Italia dan Jerman yang menggandeng polisi untuk menuntaskan skandal
sepak bola, PSSI memilih cara sendiri untuk menyelesaikan kasus suap itu. PSSI
membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) yang diberi masa tugas dua pekan. Hasil
temuan TPF menegaskan bahwa skandal suap itu benar-benar terjadi. Tak ada
ampun, yang salah harus mendapatkan sanksi. Setelah sempat bingung menentukan
bentuk hukuman, PSSI akhirnya memvonis empat pengurus Medan Jaya dengan sanksi
beragam. Sementara dua pengurus PSSI diberhentikan (padahal mereka telah lebih
dulu mengundurkan diri). Sejumlah kalangan menyebut sanksi itu kurang tegas.
Tapi, PSSI bergeming. Itulah sepak bola Indonesia! Seperti Italia dan Jerman,
sepak bola Indonesia diguncang skandal ketika bersiap menuju sebuah turnamen
besar. Tiga hari lagi, putaran final Piala Asia 2007 bakal digelar. Tidak hanya
menjadi salah satu kontestan, Indonesia juga satu dari empat tuan rumah
"Piala Dunianya Sepak Bola Asia" itu. Secara teknis, meski main di
kandang, Ponaryo Astaman dkk diprediksi sulit bersaing dengan tiga pesaingnya
di Grup D (Arab Saudi, Korea Selatan, dan Bahrain). Karena itu, dukungan
suporter merah putih diharapkan menjadi amunisi tambahan bagi Timnas Indonesia.
Di luar lapangan, semua persiapan telah dilakukan. Stadion Utama Gelora Bung
Karno diperelok dengan guyuran dana Rp 58 miliar. Di Palembang, Stadion Gelora
Sriwijaya pun disiapkan untuk menjadi salah satu tempat pertandingan. Sementara
di atas lapangan, para pemain timnas digenjot dengan serangkaian latihan dan
pertandingan uji coba. Sepak bola Indonesia benar-benar siap menyongsong Piala
Asia. Pertanyannya: akankah hasil yang dicapai Timnas Indonesia sebaik
persiapannya?…"

 

morning intermezzo

Sunday, July 1st, 2007

My First Week
In July…

*look at
the agenda* checking for my “to do list” for this week… hmm… nothing
particular, just the same routines…  

*look at
the highlight sentences… at the bottom of the page*

ups wait… *surprised*
ooowwwhhh… I forgot to make the report of my last negotiation… I’m so damn busy
with my book… heeee

*sit
properly at my chair*
*open my
laptop*
*do some
internet setting*
*start to
browse*
*stand up n
eat my breakfast*
*grab a
drink*
*start to
chat with my collages*
….

Ehem…ehem…
Heeeiiii… !!!! start working Dude…

Heeee… ups sorry…

See yaa…