Kisah Rohani *ketika ”kupu-kupu” bertasbih*

Sebuah Kisah dalam buku: Dahsyatnya Kekuatan Cinta (Hikmah,2007)… sempat
disampaikan dalam buletin salah seorang teman gw (thx bwt Nuri yang udah
membagi jalur dakwahnya)… mungkin bagi rekan sekalian yang belum pernah
mengetahui mengenai kisah ini, saya coba untuk lebih memperluas
penyebarannya… satu yang selalu menjadi motivasi dalam mengangkat kisah ini
adalah materi moral nya yang terasa amat kental.

kisah ini indah… kalimat ini yang terucap sesaat gw selesai membacanya…
bahkan bagi diri gw pribadi, ini termasuk kategori cerita yang bisa tuk
dijadikan renungan hidup… mungkin dalam kisah ini, sang penulis ingin
mengangkat isu sosial (prostitusi) sebagai imbas dari rendahanya aspek ekonomi
di masyarakat, walau kenyataannya tekanan ekonomi tidak selama mendasari
prilaku menyimpang ini, apalagi ditambah dengan bayangan banyaknya individu
atau komunitas yang lantas memicingkan mata terhadap isu sosial semacam ini…
termasuk mencoba untuk menyelesaikan permasalahan dengan metode ekstrim… cap
sebagai ”sampah” acap kali dilontarkan bahkan oleh orang yang berpakaian
selayaknya menjadi tokoh panutan dalam masyarakat. Penulis benar-benar
mengangkat bagaimana suatu dakwah tidak harus diucapkan atau disampaikan dalam
bentuk khutbah atau doktrinasi… dakwah tidak hanya disampaikan pada kalangan
masayarakat normal, Jihad tidak selalu dalma kekerasan dan ajakan untuk yakin
Bahwa Allah SWT tidak pernah melupakan umatnya…

Kisah ini membagi sedikit solusi
bagaimana sikap tindak untuk memerangi sebuah kemungkaran… yang tentunya
memulai perbaikan dari dalam diri sendiri dan menularkannya kepada
masyarakat… hingga ke tahap melafadz kan niat dan doa, pada saat terjadinya
kemungkaran, hingga berdakwah memerangi kemungkaran…


Kembali menyikapi karya tulis ini, Gw ga peduli jika karya ini hanyalah karya
pena dan lantunan isi pikiran semata, atau kisah ini memang nyata ada… yang
terpenting bagi gw sekarang adalah "panutan" yang dideskripsikan
dalam cerita ini, bagaimana sikap kita dalam menyikapi suatu hal negatif dengan
respon yang sangat positif… Sungguh bagi gw, materi kisah ini bisa membuka
mata banyak insan dalam bersikap melihat sekeliling kita…

Satu kalimat ini yang membuat gw tersenyum setelah selesai membacanya adalah…
"Selalu ada keajaiban untuk mereka yang benar-benar ingin kembali
padaNya"

Mungkin sekian prolog dan latar belakang kenapa kisah ini gw share dengan
rekan-rekan sekalian… siapa tahu, bisa jadi aspirasi juga buat kalian…
berikut jalan kisah ini:

Malam telah menurunkan jubah gelapnya ketika Kyai Sadawi naik ke atas
delmannya. Ia menuntun kudanya menembus kegelapan. Dingin menggigit. Tapi
lelaki enam puluhan itu tak peduli. Dengan sarung dan selempangan kain di
leher, ia menuju sebuah tempat; istana perempuan-perempuan malam.

Tak lama kemudian seorang perempuan telah berada di atas delmannya. Kyai
Sadawi akan membawanya pulang. Meskipun senja telah menggantungi usianya,
urusan perempuan dia tetap ahlinya. Ia memilih perempuan yang paling laris di
lokalisasi prostitusi tersebut. Karti, perempuan di atas delman awalnya tak
mengerti. Mengapa induk semang mengijinkannya keluar? Siapakah yang akan
dilayaninya. Lelaki berpeci putih itukah? Dari penampilannya, Karti sangsi.
Birahi mungkin telah terbang dari tubuh layu itu. Tapi siapa tahu. Bandot tua
saja bisa menjadi harimau kelaparan di dalam kamar; melumat tubuhnya hingga
penuh bekas terkaman. Kyai sadawi melirik Karti. Sepanjang perjalanan ia diam.
Karti pasti terlahir dari rahim kemiskinan. Makanan sehari-hari Karti; sepiring
derita segelas nestapa. Keadaan membuat ia masuk perangkat laba- laba betina.
menjual kehormatan dengan harga sangat murah. Kyai Sadawi tahu benar akan hal
itu.

Sampai di sebuah rumah kayu, Kyai Sadawi menyuruh Karti turun. Ia mengucap
salam dan berteriak pelan, Nyai, kita kedatangan tamu Allah. Segera buka pintu.
Seorang perempuan berkerudung membuka pintu. Senyum menghias wajahnya yang
berkerut. Ia menuntun Karti masuk. Silahkan, jangan sungkan-sungkan. Anggap
saja rumah sendiri. Karti semakin tak mengerti. Di ruang tamu Karti menunggu.
Nyai menyuguhkan teh hangat dan pisang goreng, sungguh nikmat. Karti juga
ditawari makan. Ia menolak. Sudah, katanya. Kayai sadawi masuk ke ruang tamu.
Ia duduk di kursi seberang Karti. Kita main sekarang, Kyai? selidik Karti. Agak
ragu ia mengucap kata itu. Apa mungkin lelaki tua ini punya hasrat kuda liar. Tidak.
Nanti saja. Lebih baik kamu mandi dulu, Nyai sudah menyiapkan air hangat
untukmu.Mandi dulu. Beberapa pelanggan Karti juga sering menyuruh mandi dulu.
Biar kesegaran menyerap ke dalam pori-pori kulit, supaya nyaman kulit
bersentuhan, bertukar panas tubuh.
Karti pergi ke belakang. Menikmati tetes hangat dalam
bimbang. Nyai memberikan pakaian panjang untuk Karti. Pakaian pertama yang
menutupi tubuhnya hingga mata kaki. Kanti duduk di ranjang sambil menyisir
rambut panjangnya.
Ia menunggu, Kyai sadawi atau ada lelaki lain? pasti akan segera masuk.
Benar saja, ketukan pintu terdengar. Karin membuka pintu. Kyai Sadawi terseyum
di ambang pintu. Sekarang kyai? Tidak. Nanti saja. Kamu istirahat saja dulu.
Setiap malam kamu bekerja keras. Malam ini kamu istirahat dulu. Setelah mandi,
enak sekali kan kalau tidur. Karti mengerutkan dahi. Kyai Sadawi
meninggalkannya. Jangan lupa kunci pintunya, teriak Kyai Sadawi. Karti
merapatkan pintu. Ia semakin tak mengerti. Malam itu, Karti tertidur lelap. Ia
bermimpi seorang lelaki berpakaian putih memberikan matahari padanya.

Sebelum azan shubuh berkumandang, Karti dibangunkan. Nyai mengajak Karti
shalat berjamaah di rumah. Kyai Sadawi sudah berangkat ke Masjid. Karti menurut
saja. Ia berusaha keras mengingat bacaan shalat yang dulu pernah sangat
dihapalnya.
Setelah
sarapan Kyai Sadawi memanggil Karti. Mungkin sekaranglah saatnya, pikir Karti.
Ia berjalan pelan ke ruang tamu. Kyai Sadawi menyuruh Karti duduk. Entah
kenapa, Karti tak berani menatap wajah tua itu. Kamu biasanya dibayar berapa
untuk melayani semalam penuh? Karti mendongak, tapi langsung menunduk lagi.
Katakan saja angkanya. Tak perlu sungkan. Karti menyebut angka. Kyai Sadawi
mengeluarkan amplop dari sakunya. Ia meletakkan amplop di meja, menggesernya ke
arah Karti. Ini untuk mengganti tarif kamu semalam penuh. Kalau lebih, ambil
saja sisanya. Tapi, saya kan belum melakukan apa-apa Hanya saja. Saya pesan,
tolong uang itu digunakan untuk kebaikan. Jangan dipakai untuk kemaksiatan. Ini
rejeki halal kamu. Karti makin tak berani menatap wajah Kyai Sadawi. Kamu itu
sebenarnya perempuan baik. Dan bisa kembali baik. Saya tak bisa membantui
banyak selain menjamu kamu semalam penuh.
Maaf,
kalau ada yang kurang berkenan. Inilah kesanggupan kami.

Kyai Sadawi mengantar Karti sampai ke tempat induk semangnya lagi. Delman
berjalan perlahan. Selama perjalanan karti merenung, menatap amplop pemberian
kyai Sadawi. ooo Di malam-malam berikutnya, Kyai Sadawi, melakukan hal yang
sama pada perempuan malam lainnya. Tapi ia tidak pernah mengajak perempuan yang
sama. Semalam Karti, malam berikutnya Parti. Di lain kesempatan, ia membawa
Santi. Begitu hingga tak terhitung jumlahnya.

Di komplek prostitusi, para perempuan malam saling menuturkan
pengalamannya. Waktu dibawa, aku sempat heran. Masa sih, Pak Kyai mau main sama
aku. Apa nggak patah tulangnya melayani jurusku. Santi tertawa. Aku juga. Di
rumahnya, wah kayak ratu. Belum pernah aku diperlakukan seperti itu. Yang
paling baik, cuma senyum-senyum, merayu. Trus langsung tancap gas, tambah
Parti. Karti yang sedari tadi melamun ikut buka suara, betul. Aku merasa di
manusiakan kembali. Betapa baiknya pasangan suami istri itu pada kita. Semuanya
terdiam. Kamar sempit itu hening. Matahari baru saja menampakkan wajahnya,
waktu bagi mereka untuk melepas lelah. Karti berbaring, menumpukan kepala ke
atas bantal. Matanya nanar. Tiba-tiba ia menangis. Kamu kenapa, Karti? Santi
heran. Tidak apa-apa. Tapi entah kenapa, kalau ingat wajah Kyai Sadawi dan
istrinya, aku juga terkenang, Bapak-Ibuku.
Santi dan Parti menghela napas.
Panjang. Merekapun ikut merenung. Lama-kelamaan mata Parti dan Santipun ikut
basah. Semakin lama, makin banyak perempuan malam suka membicarakan Kyai
Sadawi. Ada yang simpati, ada pula yang menganggapnya biasa. Dia lagi loyo aja.
Kyai Sadawi menjadi buah bibir di kalangan perempuan malam.

Karti yang akhir-akhir ini mulai malas menerima tamu, mencetuskan ide,
bagaimana kalau kita silaturahmi ke rumah Kyai Sadawi lagi.
Entah, aku kok jadi kangen
sama, Nyai. Beberapa orang setuju. Tak disangka beberapa orang, dua puluhan
orang ingin juga mengunjungi Kyai Sadawi. Suatu siang, mereka beramai-ramai
pergi ke ruamh Kyai Sadawi. Nyai Sadawi yang baru saja menunaikan shalat dzuhur
terkejut. Mereka disuruh berkumpul di pondok kecil, samping rumah. Kyai Sadawi
datang. Mengucapkan salam. Wah, saya kedatangan tamu-tamu cantik lagi. Senyum
menghias wajah-wajah tanpa polesan meriah. Mereka senang mendengar pujian tulus
Kyai Sadawi. Mereka mengutarakan maksud kedatangan. Bahkan Karti mencurahkan isi
hatinya. Ia ingin berhenti melayani laki-laki. Tapi, bagaimana caranya. Kyai
Sadawi tersenyum, mengucap syukur, Pintu rumah ini tak pernah terkunci untuk
kalian. Dan pintu maaf Yang Kuasa juga selalu terbuka. Tinggal kalian saja,
kapan mau datang dengan wajah baru. Saya siap menampung kalian di pondok. Dan
kalau kalian tak keberatan Kyai Sadawi berbisik pada Nyai yang duduk di
sampingnya. Beberapa saat kemudian, Nyai kembali bersama puluhan pemuda
berwajah bersih. Mereka berdiri tak jauh dari pondok, mengenakan kain sarung
dan pakaian lengan panjang, berpeci putih. Kalau kalian tak keberatan, Kyai
Sadawi melajutkan, saya minta kalian menikah dengan santri- santri saya. Mereka
siap berjihad mendampingi kalian. Semua perempuan malam ternganga. Tak percaya.
Laki-laki berwajah bersih itu untuk mereka? Apakah ini mimpi.Karti menangis
haru. Diikuti dengan isakan Parti dan Santi. Angin bertiuip semilir. daun-daun
pohon melambai. Perempuan malam bertasbih. Semesta ikut bertasbih. Selalu ada
keajaiban untuk mereka yang benar-benar ingin kembali padaNya

 

Leave a Reply